Skip to content

Berjaya di negeri orang, terlantar di negeri sendiri

January 20, 2011

Sudah lama ga nulis, karena biasanya tulisan saya ga bagus. Yet, I’ll give it a shot anyway. Saya beberapa waktu yang lalu nonton kickandy yang judulnya berjaya di negeri dan ikatan ilmuwan indonesia di LN. Kalo saya lihat, isinya sangat inspiratif, informatif, dan emosional (read: membangun kebanggaan sebagai bangsa). Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang potensial yang TIDAK digunakan oleh pemerintah atau dinyatakan TIDAK BERGUNA bagi pemerintah/negara (implicitly). Ironis memang, di satu sisi mereka adalah berlian-berlian yang luar biasa berkilau dan bermanfaat di LN, tetapi di dalam negeri mereka seperti terserak begitu saja (tak terpakai).

Beberapa alasan mereka tidak bisa berkarya disini karena 1) tidak ada dukungan pemerintah  (read: eksekutif dan legislatif) terhadap riset (read: anggaran dan dana riset yang minim), 2) tidak ada penghargaan bagi para peneliti (read: benefits), 3) kurangnya/tidak adanya dukungan industri, dan 4) tidak tersedianya peralatan/fasilitas yang dibutuhkan di dalam negeri.

Pertama, dukungan pemerintah untuk saat ini memang belum maksimal. Meski secara fair ada peningkatan melalui program dana penelitian dari kemenristek atau dana penelitian lokal dari universitas, tetapi masih dalam jumlah terbatas (dari sisi amount maupun number). Aturan dan birokrasi yang berbelit-belit juga menambah pelik perkara mendapatkan dana riset ini (have been there), belum lagi kalo dananya di-khitan. Ya bagaimanapun saya hargai usaha pemerintah, meski belanja DPR yang kudunya dikhitan :p

Aturan yang berbelit-belit juga berdampak pada alasan kedua, kurangnya apresiasi terhadap para peneliti. Reward berupa honor penelitian maksimal adalah 30% dari dana penelitian. Nah, ini kudu diliat skala,beban, kualitas penelitian, dan output yang dijanjikan oleh penelitian tersebut. Menurut pengalaman, dana penelitian lokal berkisar antara Rp. 25-30 juta (waktu penelitian 6 bulan). Kalau ada yang cukup besar (karena skala penelitian) mungkin bisa sampai Rp. 100-200 juta (waktu penelitian setahun). Ya masih cukup kecil memang (dibandingkan dana kampanye dan jatah partai wakakak), karena kalau dihitung-hitung buat peralatan, transport, survei, dkk cuman mentok dalam kota :p (untung bukan yang mesti beli alat2 lab yang mahal bagian saya :D ). Honor kalo maksimal 30% trus ada 3 peneliti, ya tinggal bagi aja 3 (0.1×30=3juta/6bln=Rp.500rb/bln). Can you imagine that? bisa dibayangkan kualitas penelitiannya nanti seperti apa yaaa. Jadi kayaknya kalo mau jadi peneliti, mendingan kaya dulu deh, baru neliti biar fokus dan hasilnya excellent. Kasus ini bisa diterapkan kalau seseorang pengen jadi staf pengajar (dosen) haha.

Ketiga dukungan industri yang masih cekak. Memang harus disadari masyarakat kita adalah masyarakat yang pragmatis (read: tidak punya visi jangka panjang :p). It means perusahaan tidak punya minat untuk menanam saham di bidang penelitian. Mereka cukup happy dengan R&D perusahaan saja. Kolaborasi dengan universitas dipandang sebagai menyiakan anggaran dan lebih baik dipakai untuk CSR yang dipandang lebih bermanfaat (improving corporate image).  Kalau mau jujur pandangan ini ga bisa disalahkan  karena terkadang mereka juga menghadapi kurangnya profesionalitas dari universitas. So they both have to work out on their issues supaya industri dapat manfaat, universitas dapat dana riset. Solusinya? Well, can you suggest any :D

Terakhir adalah juga dampak dari kurang concern-nya pemerintah terhadap riset plus cekaknya dana penelitian (semakin kelihatan pragmatis kan pemerintah hehe, abis buat belanja DPR kali ya). Kalau dibiarkan demikian, semua berlian akan terkuras habis ke LN, dan Indonesia ends up as a market only which relies heavily on ngutang hihi. Well, Indonesia whatever happens to you, I still love you. Cepet sadar yaaa :)

Comment terakhir ini tentang prestasi para scientists sm professors yang diwawancarai di kickandy. Well, they are truly professional and extraordinary. I really want to be like them, yet sometimes I think myself as  ‘ilmuwan tanggung’ hahaha. Nonetheless, lets keep the positive energy in here. So, next research? :)

nice quotes: ‘se berlusconi ha i capelli, dovrebbe grazie alla ricerca’ (LOL)

Advertisement
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.